Walikota Huoling, Li Cheng, hanya terdiam, matanya tajam memandangi empat orang yang berdiri di hadapannya. Aura ketegangan menyelimuti ruangan, seolah udara menjadi lebih berat.

"Walikota, sampai kapan kau akan bersikeras seperti ini?" suara Huo Zhen terdengar dingin dan mengancam. "Apa kau tidak sayang pada nyawa keluargamu?"

Li Cheng tidak segera menjawab. Ia menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara mantap, "Huo Zhen, apakah kau benar-benar mengerti apa yang akan terjadi jika artefak ini jatuh ke tangan mereka? Apa kau tahu apa yang tersembunyi di dalamnya? Jika aku menyerahkannya, seluruh penduduk Kota Huoling akan berada dalam bahaya besar."

Mata Huo Zhen menyipit. "Apa maksudmu? Artefak apa itu sebenarnya?"

Sebelum Li Cheng sempat menjawab, seorang pria yang berdiri di sisi Huo Zhen melangkah maju.

"Cukup omong kosong, kamu tidak perlu tahu artefak apa itu. Tugasmu hanya mendapatkannya." katanya, suaranya serak namun penuh tekanan. "Kita tidak punya waktu untuk berdebat. Serahkan artefak itu sekarang, atau aku akan meratakan kota ini beserta seluruh penduduknya!"

Li Cheng menatap pria itu tanpa gentar. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. "Kau pikir aku sebodoh itu?" katanya, suaranya penuh keyakinan. "Jika kalian memang berniat menghancurkan kota ini, kalian tidak perlu repot-repot mendesakku."

Wajah pria itu sedikit mengeras. Ia tak menyangka Li Cheng, meskipun kekuatannya jauh di bawah mereka, tetap teguh dalam menghadapi ancaman.

"Aku, Li Cheng, tidak akan menuruti kemauan kalian!" suara Walikota menggema di ruangan, meskipun napasnya mulai berat. Rasa sakit menjalar di dadanya—serangan pria di depannya telah mengacaukan aliran Qi-nya, membuatnya kesulitan menstabilkan diri.

Huo Zhen melangkah mendekat, senyum licik terukir di wajahnya. "Walikota Li Cheng, aku tahu kau sangat menyayangi putri sulungmu..." katanya dengan nada lembut yang penuh racun. "Aku bisa menyembuhkannya. Syaratnya, serahkan artefak itu kepadaku, aku yakin artefak itu tidak sepadan dengan nyawa putrimu."

Li Cheng meludah ke samping, tatapannya penuh jijik. "Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" suaranya dingin seperti es. "Putriku akan sembuh tanpa campur tangan bajingan sepertimu!"

Huo Zhen tertawa, suaranya menggema di ruangan. "Menyembuhkannya? Dengan apa? Bunga Moon Spirit Herb yang susah payah kalian dapatkan?" ejeknya, nada suaranya penuh cemoohan. "Apa kau pikir hanya dengan pil pemurnian qi bisa menyelamatkan nyawanya? Apapun obat yang kamu berikan, tidak akan berpengaruh untuknya."

Li Cheng merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Matanya menyipit tajam. "Kau..." suaranya bergetar menahan amarah. "Apa maksudmu? Jangan bilang... kau ada hubungannya dengan penyakit putriku!"

Ekspresi Huo Zhen berubah, matanya berkilat dengan kebencian. "Dengar baik-baik, Walikota!" katanya, suaranya penuh amarah. "Kedatangan kalian ke Kota Huoling telah menghancurkan rencanaku! Aku seharusnya menjadi penguasa di sini! Tapi karena ulahmu, semua menjadi berantakan. Seharusnya kalian tidak datang ke kota ini. Putri sulungmu pantas menerima hukuman atas dosa ayahnya!"

Ia mengacungkan jarinya ke arah Li Cheng, seakan menudingnya sebagai biang keladi dari semua yang terjadi.

"Jadi kau yang telah menyakiti putriku..."

Suara Walikota bergetar, bukan karena ketakutan—melainkan amarah yang membakar setiap urat nadinya. Napasnya memburu, matanya menyala penuh kebencian. Putrinya telah menderita begitu lama—pingsan tanpa sebab, kesadarannya kabur seperti orang yang kehilangan ingatan—dan semua itu adalah ulah Huo Zhen!

"Kau akan membayarnya dengan nyawamu, Huo Zhen!"

Qi meledak dari tubuhnya dalam sekejap, bergemuruh seperti gelombang pasang yang menerjang. Udara bergetar, lantai di bawah kakinya retak. Aura Master Foundation Perunggu Tingkat Akhir menyelimuti tubuhnya, menciptakan pusaran energi yang mengancam.

Dengan satu hentakan kaki, ia melesat seperti kilat. Telapak tangannya bersinar merah menyala, membentuk siluet bunga teratai yang berkobar di udara.

"Crimson Lotus Palm!"

Panas menyengat memenuhi ruangan saat serangan itu melesat ke arah Huo Zhen, mengancam untuk menghanguskan tubuhnya hingga tak bersisa.

Namun, sebelum serangan itu mencapai targetnya—

Bang!

Sebuah tangan muncul begitu saja, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang luar biasa.

Walikota bahkan tidak sempat bereaksi. Matanya membelalak saat tekanan yang tak tertahankan menekannya seperti gunung yang runtuh di atasnya. Qi dalam tubuhnya bergejolak liar, nyaris meledak karena ketimpangan kekuatan yang begitu besar.

Dalam sekejap, tubuhnya terangkat dari tanah.

"Kau terlalu lamban."

Suara dingin pria itu terdengar tepat di telinganya, lalu—

Bugh!

Tendangan keras menghantam dadanya sekali lagi.

Walikota terpental seperti daun kering tertiup badai. Tubuhnya menghantam pilar batu di belakangnya, menciptakan retakan besar sebelum jatuh menghantam lantai. Darah segar menyembur dari mulutnya, napasnya tersengal, tubuhnya terasa remuk.

Pria yang telah melukai komandan Jiang, seorang kultivator ranah Grandmaster Fana bergerak melindungi Huo Zhen.

Walikota menggertakkan giginya. Jarak kekuatan mereka terlalu jauh! Tidak heran serangannya tadi dengan mudahnya di hentikan, baginya,  serangan yang diluncurkan oleh walikota terasa sama sekali tidak berarti!

Tawa keras menggema di ruangan itu.

Huo Zhen menatapnya dengan penuh ejekan. "Hahaha! Li Cheng, kau benar-benar tidak tahu tempatmu! Berani bertingkah di depan seorang Grandmaster Fana?"

Ia berjalan perlahan mendekat, lalu berjongkok di samping tubuh Walikota yang tak berdaya. Dengan senyum kejam, ia berbisik, "Kau membuat keputusan yang sangat buruk."

"Bawa Nyonya Walikota ke sini."

Huo Zhen melambaikan tangannya dengan santai, memberi perintah kepada salah satu anak buahnya. "Ingat, perlakukan dia dengan sangat baik." Suaranya penuh dengan ejekan sinis.

"Jangan libatkan mereka, Huo Zhen! Lepaskan istriku!" Walikota menggeram, tubuhnya yang masih terluka berusaha bangkit, tapi rasa sakit menahannya di tempat.

Teriakan seorang wanita terdengar dari kejauhan. "Suamiku...!"

Seorang wanita dengan wajah lembut namun penuh keteguhan muncul, ditarik paksa oleh dua orang bawahan Huo Zhen. Meski usianya tak lagi muda, kecantikannya masih bersinar, memperlihatkan keanggunan seorang istri pejabat terhormat. Matanya penuh kecemasan saat melihat suaminya yang tergeletak dengan tubuh bersimbah darah.

Huo Zhen menyeringai, lalu dengan enteng mendorong wanita itu hingga terjatuh di sisi walikota.

"Huo Zhen... kau...!" Walikota mengepalkan tangannya, amarah yang ia tahan nyaris meledak melihat perlakuan keji terhadap istrinya.

Huo Zhen berjongkok di samping mereka, menatap Nyonya Walikota dengan seringai licik. "Nyonya Li," ucapnya pelan, "Aku yakin kau wanita yang bijak. Kau tentu tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kedua anakmu, bukan?"

Mata wanita itu membelalak. "Anak-anakku?" Suaranya bergetar, dan wajahnya seketika pucat.

"Benar." Huo Zhen tersenyum kejam. "Putri kecilmu yang malang... dan anak sulungmu yang sudah sekarat karena racunku. Jika kau ingin mereka tetap hidup, maka bicaralah pada suamimu."

"Racun? Sekarat? Apakah maksudmu anakku, Li Mei, telah terkena racun dan kamu, Huo Zhen, adalah penyebabnya?" tanya istri walikota dengan suara bergetar, marah membara. Dalam kebingungannya, dia berusaha berdiri, niatnya untuk menyerang Huo Zhen jelas terlihat, namun suaminya segera menahannya, menariknya kembali dengan lembut.

"Kau sama bodohnya dengan suamimu," Huo Zhen melontarkan ancaman dengan nada dingin yang menusuk, matanya berkilau penuh kebencian. "Segera bujuk suamimu untuk menyerahkan artefak yang sedang kami cari, atau aku akan membuatmu kehilangan kedua anakmu selamanya."

"Kamu lihat nyonya Li, aku akan memerintahkan semua anak buahku untuk memperkosa kedua putrimu yang sangat cantik." Tambahnya.

"Jangan dengarkan dia sayang, kita tidak bisa mengikuti kemauan manusia seperti mereka." kata walikota dengan tegas.

Mendengar ancaman itu, Nyonya Li terdiam dan bimbang. Ia tahu betul bahwa suaminya menjaga artefak tersebut lebih dari nyawanya sendiri sejak lama dan sudah mengetahui riwayat artefak tersebut beserta bahayanya. Namun, ketika Huo Zhen mengungkapkan bahwa penyakit putri mereka adalah akibat perbuatannya dan bahwa ia akan memerintahkan anak buahnya untuk memperkosa kedua putrinya, hati Nyonya Li luluh.

Ia menatap suaminya dengan penuh kesedihan, seolah memberikan salam perpisahan. Walikota yang hapal dan memahami istrinya, menarik napas panjang dan terlihat sekilas senyum sedih di wajahnya. Dia memahami dengan jelas niat istrinya.

Nyonya Li lalu dengan penuh kepura-puraan, berlutut di hadapan Walikota, menggenggam tangannya erat.

